Kendari – Diskusi dan sosialisasi Kekayaan Intelektual (KI) yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Tenggara (Kanwil Kemenkum Sultra) bersama mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kendari di booth Kanwil Kemenkum Sultra dalam rangka peringatan HUT ke-62 Sulawesi Tenggara serta Hari Kekayaan Intelektual Sedunia menghadirkan perspektif menarik.
Tak hanya membahas aspek dasar KI, forum ini juga berkembang ke isu global, ketika salah satu peserta mengaitkan perlindungan paten dengan dinamika hubungan antarnegara di tengah situasi konflik dunia saat ini. Sabtu (25/04/2026)
Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa mengangkat pertanyaan kritis mengenai bagaimana peran paten, khususnya dalam pengembangan alat utama sistem persenjataan (alutsista), memengaruhi posisi dan kekuatan suatu negara dalam percaturan internasional. Pertanyaan tersebut langsung memantik diskusi yang lebih luas, menghubungkan antara hukum KI dan geopolitik global.

Menanggapi hal tersebut, Tim KI Kanwil Kemenkum Sultra menjelaskan bahwa paten tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan hukum atas inovasi, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam menentukan daya saing dan kemandirian suatu negara, termasuk di sektor pertahanan.
“Dalam konteks global, penguasaan teknologi yang dipatenkan, termasuk di bidang alutsista, menjadi salah satu indikator kekuatan negara. Negara yang mampu mengembangkan dan melindungi inovasinya akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat, baik dalam kerja sama maupun dalam menghadapi konflik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa meskipun Indonesia menganut prinsip perdamaian dan tidak terlibat dalam konflik bersenjata, pemahaman terhadap KI, termasuk paten di sektor strategis, tetap penting sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan dan ketahanan nasional.

Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Sultra, Topan Sopuan turut mengapresiasi kedalaman pemikiran mahasiswa yang mampu mengaitkan isu KI dengan dinamika global.
“Ini menunjukkan bahwa kesadaran hukum generasi muda kita sudah berkembang. Mereka tidak hanya memahami KI sebagai perlindungan karya, tetapi juga melihatnya sebagai bagian dari strategi besar dalam hubungan internasional,” ujarnya.
Diskusi yang berlangsung di Lapangan Ex MTQ Kendari ini menjadi bukti bahwa edukasi KI dapat menjadi pintu masuk untuk memahami isu-isu yang lebih luas, termasuk peran inovasi dan teknologi dalam menjaga stabilitas global.
Melalui kegiatan ini, Kanwil Kemenkum Sultra berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna ilmu, tetapi juga mampu menjadi pemikir kritis yang berkontribusi dalam membangun bangsa, dengan memanfaatkan dan melindungi inovasi sebagai aset strategis di era global.

